Lokakarya: Membumikan Data Kehutanan Global dalam Pengetahuan Lokal
Felipe Mammoli dan Madhuri Karak
Bekerja sama dengan mitra kami Working Group for ICCAs in Indonesia (WGII), menyelenggarakan lokakarya data tatap muka bersama enam pemuda teknolog dari masyarakat adat di seluruh nusantara pada Agustus 2026. Lokakarya ini didukung oleh Exploration Co-Lab dari Unearthodox.
┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
LATAR BELAKANG & MASALAH
Alat pemantauan geospasial canggih telah mengubah cara dunia memantau kesehatan hutan — namun teknologi ini tidak melibatkan sistem pengetahuan masyarakat penghuni hutan yang hidup berdekatan dengan hutan selama bergenerasi.
Kumpulan data hutan global, termasuk karbon, kawasan keanekaragaman hayati kritis yang secara luas dikenal sebagai data dingin, dibangun berdasarkan model ilmiah yang mengabaikan situasi faktual di masyarakat, termasuk pengetahuan ekologi tradisional Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal yang pengelolaannya secara langsung bertanggung jawab atas keanekaragaman hayati hutan dan pengurangan deforestasi.
Sementara itu, pergeseran pendanaan iklim ke arah metrik penyerapan karbon mengesampingkan pendekatan berbasis hak dan mata pencaharian, sehingga membebani Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal secara tidak adil tanpa mengakui peran mereka.
Platform yang ada seperti Global Forest Watch dan Mapeo mendukung tujuan pemantauan dan katalogisasi.
Namun, masih sangat sedikit alat dalam ekosistem data hutan yang dapat memvisualisasikan kumpulan data global terkait hutan—termasuk cadangan karbon dan data ekosistem kritis di kawasan yang dikelola masyarakat—bersama dengan pengetahuan teritorial dan informasi yang dipetakan oleh masyarakat itu sendiri di dalam lanskap yang sama.
POIN UTAMA DARI SURVEI PRA-LOKA KARYA
→ Semua peserta memiliki pengalaman bekerja dengan campuran data hutan primer dan sekunder (peta partisipatif, sumber pemerintah, dan sumber publik lainnya)
→ Para peserta sepakat bahwa advokasi adalah alasan utama di balik keputusan masyarakat untuk memetakan wilayah mereka sendiri
→ Perkebunan kelapa sawit dan penebangan kayu merupakan ancaman terbesar bagi komunitas IPLC di Indonesia
→ Peserta mengidentifikasi pemrosesan data dari berbagai sumber serta upaya untuk membuat resolusi spasial, proyeksi, dan temporalitas menjadi kompatibel dan dapat dibandingkan sebagai aspek paling menantang dalam pekerjaan mereka
→ Semua peserta ingin “memahami bagaimana indikator karbon yang berbeda [tinggi kanopi, cadangan karbon tinggi atau HCS] dapat melengkapi data mengenai kawasan yang dilindungi masyarakat”
PRA- LOKA KARYA
3 Juli 2026; Daring
Menjelang loka karya tatap muka kami pada minggu pertama Agustus, kami berkumpul secara daring bersama enam ahli teknologi dari masyarakat adat untuk sesi persiapan pada tanggal 3 Juli.
Kami memulai sesi pra-loka karya dengan memperkenalkan diri dan berbagi hal-hal yang membuat tempat yang kami sebut sebagai rumah menjadi istimewa [lihat peta di bawah]. Membangun pemahaman bersama mengenai hubungan kami dengan wilayah kami, serta menegaskan bahwa sistem data satelit hanya mampu menawarkan sebagian kecil dari hal-hal yang membuat lanskap kami berkembang (identitas budaya, memori, praktik pengelolaan antar generasi) merupakan tujuan utama dari sesi pra- loka karya ini.
Gambar 1: Enam ahli teknologi kami bergabung dengan kami dari Sumatra bagian utara dan tengah; Jawa bagian barat laut; Kalimantan bagian utara; Sulawesi bagian utara; serta Kepulauan Mentawai yang terpencil di lepas pantai Sumatra bagian barat.
Alih-alih memperlakukan citra satelit sebagai penilaian holistik terhadap kesehatan hutan, para peserta didorong untuk memandang data geospasial hanya sebagai salah satu sumber bukti yang dapat ditafsirkan bersama dengan pengalaman lokal, praktik tata kelola, dan pengetahuan ekologi tradisional.
Empat bagian utama pra- loka karya ini membahas (i) ekosistem data hutan; (ii) pemetaan partisipatif sebagai teknologi sosio-spasial; (iii) keterbatasan bahasa karbon; dan (iv) pentingnya perlindungan data.
┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
LOKA KARYA
5-6 Agustus 2026; Bogor, Indonesia
Hari 1
Loka karya dimulai dengan sesi presentasi di mana setiap peserta secara singkat mendeskripsikan lanskap desa mereka. Meskipun semua peserta berasal dari wilayah berhutan di Indonesia, masing-masing menyoroti aspek yang berbeda dalam presentasi mereka; ada yang menyebutkan air jernih di dekat desa mereka, ada yang berbicara tentang hutan yang rimbun, dan ada pula yang membahas pegunungan yang mengelilingi desa mereka.
Sesi pengenalan pertama ini menetapkan nada acara ini, bahwa meskipun Indonesia merupakan negara yang didominasi hutan tropis, setiap komunitas mengalami lanskapnya dengan cara yang unik.
Pada sesi pagi, kami memaparkan tujuan utama loka karya ini, yaitu mengeksplorasi bagaimana pemetaan partisipatif dapat diintegrasikan dengan data terkait karbon untuk menunjukkan pentingnya praktik adat dalam konservasi ekosistem Indonesia.
Selanjutnya, kami melanjutkan dengan gambaran umum mengenai platform WebGIS Beyond Carbon, mempelajari fitur-fitur utamanya seperti memuat berkas vektor peta komunitas peserta, menggabungkan berbagai set data raster, serta mengekspor peta tematik untuk keperluan advokasi.
Gambar 2: Tangkapan layar antarmuka WebGIS Beyond Carbon, yang menunjukkan pemilihan batas vektor khusus di Kalimantan bersama dengan statistik tutupan lahan multitemporal, overlay konsesi, dan kontrol pengaliha
Sesi sore dialokasikan untuk kegiatan praktik langsung. Fokusnya adalah melacak transformasi lanskap yang lebih luas di sekitar desa-desa peserta selama beberapa dekade terakhir. Untuk itu, kami menggunakan data perubahan tutupan lahan yang diekstraksi dari platform MapBiomas Indonesia.1
Setiap peserta memuat peta komunitas yang dihasilkan melalui pemetaan partisipatif, menimpakannya dengan rangkaian data perubahan tutupan lahan, dan mengekspor video singkat yang menunjukkan bagaimana tutupan hutan, lahan pertanian, dan konsesi perkebunan berkembang di sekitar wilayah mereka dari tahun 1990 hingga 2020.
Peta-peta ini kemudian digunakan untuk memicu diskusi mengenai identifikasi tekanan yang dihadapi wilayah mereka. Karena sebagian besar peserta berusia awal 20-an, rangkaian data penggunaan lahan jangka panjang tersebut menjadi kesempatan bagi mereka untuk memvisualisasikan lanskap yang selama ini hanya mereka kenal melalui cerita.
Gambar 3: Beyond Carbon Map Export using MapBiomas 2024 landcover classification showing oil palm plantations, forest cover, and community vector boundaries within a participant’s territory. Ekspor peta “Beyond Carbon” menggunakan klasifikasi tutupan lahan MapBiomas 2024 yang menampilkan perkebunan kelapa sawit, tutupan hutan, dan batas-batas vektor komunitas di wilayah seorang peserta.
Salah satu peserta, misalnya, menggunakan video yang menggambarkan perubahan lanskap sejak tahun 1990-an untuk mengenang sejarah bagaimana wilayahnya menghadapi berbagai tekanan selama bertahun-tahun.Ia mengatakan bahwa pada akhir 1990-an, sebuah perusahaan kayu mendatangi desanya menawarkan pekerjaan untuk penebangan selektif, yang tak lama kemudian meluas dan berubah menjadi penebangan intensif. Sambil membuka lahan, perusahaan tersebut secara perlahan mengambil alih tanah milik semua orang, dan setelah menebang sebagian besar hutan, mereka mengubahnya menjadi perkebunan kelapa sawit.
Dengan lanskap yang telah berubah drastis ini, peserta tersebut berkomentar bahwa tanaman pangan tradisional mereka jauh lebih sulit tumbuh, sehingga anggota masyarakat tidak punya pilihan selain menanam kelapa sawit sendiri sebagai tanaman komersial untuk mempertahankan mata pencaharian mereka.
Kasus ini menggambarkan pola yang lebih luas yang dibagikan selama presentasi, yaitu ancaman terhadap wilayah mereka datang dalam berbagai bentuk dan berubah seiring berjalannya waktu, sementara dampak sosio-ekologisnya semakin parah selama beberapa dekade, menyebabkan transformasi yang sangat sulit untuk dibalikkan. Ancaman gabungan ini menyoroti kerentanan yang dihadapi wilayah adat ketika hak kepemilikan tanah tidak diakui oleh negara.
Hari ke-2
Sementara hari pertama berfokus pada pembahasan lanskap di sekitar wilayah para peserta, hari kedua berfokus pada aspek-aspek pada peta komunitas yang mereka bawa.
Gambar 4: Peserta mempresentasikan peta yang mereka buat di Beyond Carbon WebGIS, dan membandingkan berbagai dataset penginderaan jauh di seluruh wilayah mereka.
Sesi pagi difokuskan pada penyajian konsep-konsep inti data terkait karbon dan dataset terkait di platform Beyond Carbon WebGIS. Kami memperkenalkan dua dataset:
-
Aboveground Biomass (AGB) Time Series (2000–2025): Peta kepadatan biomassa beresolusi tinggi yang dikembangkan oleh CTrees.2
-
Global Canopy Height Model v2 (2026): Peta ketinggian kanopi dengan resolusi 1 meter yang dikembangkan oleh Meta dan World Resources Institute (WRI).3
Pada sesi praktik langsung di sore hari, para peserta memuat peta komunitas mereka dan mengamati bagaimana ketinggian kanopi satelit dan biomassa di atas tanah dipetakan di dalam wilayah mereka.
Gambar 5: Visualisasi Model Ketinggian Kanopi (2024) dari batas wilayah seorang peserta (digarisbawahi dengan warna merah), yang menunjukkan ketinggian kanopi hutan berkisar antara 0 meter (ungu tua) hingga 30 meter (kuning/hijau cerah). Yang menarik, bagian kiri atas wilayah tersebut menunjukkan konsentrasi tinggi pohon-pohon tinggi dan dewasa (27–30 meter), yang sesuai dengan hutan suci yang dilindungi dan dikelola berdasarkan adat setempat.
Seorang peserta mencatat bahwa wilayah yang digambarkan memiliki konsentrasi tinggi pohon-pohon tinggi oleh Lapisan Ketinggian Kanopi bertepatan dengan salah satu hutan suci desanya. Dengan menggunakan peta ketinggian kanopi, ia menjelaskan praktik pemakaman yang diwariskan secara turun-temurun di desanya.
Ketika seorang anggota masyarakat meninggal dunia, bentuk tangan dan kakinya diukir pada batang pohon, sehingga mengaitkan pohon tertentu dengan orang tersebut. Berdasarkan hukum adat, pohon-pohon yang diukir ini tidak boleh ditebang atau diganggu.
Karena praktik pemakaman ini telah berlangsung selama beberapa generasi,pohon-pohon ini telah dilestarikan dan dibiarkan tumbuh menjadi struktur kuno dengan kanopi yang tinggi. Kisah ini menunjukkan bagaimana praktik budaya dan spiritual secara langsung diterjemahkan menjadi hasil konservasi yang dapat diukur, menunjukkan kemungkinan konvergensi antara praktik adat dan konservasi.
Peserta lain menggunakan rangkaian data biomassa di atas tanah untuk menunjukkan beberapa keterbatasan bawaan dari penginderaan jauh. Ia memperlihatkan rangkaian peta wilayahnya dari tahun 2000 hingga 2024, yang menunjukkan kepadatan biomassa yang sangat stabil sepanjang rentang waktu tersebut. Namun, hal ini menyembunyikan perubahan kualitatif yang kompleks.Ia mengingat bahwa sejak tahun 2000-an, kebijakan nasional mendorong desa-desa untuk menanam padi berproduksi tinggi. Kebijakan ini mengubah praktik pertanian desa, sehingga mereka hampir sepenuhnya meninggalkan varietas padi tradisional mereka. Namun, baru-baru ini, desa tersebut berhasil memperoleh benih dari varietas tradisional mereka dan mulai menanamnya kembali, memulihkan pertanian tradisional mereka, keanekaragaman hayati lokal, serta praktik-praktik adat yang terkait dengan penanaman musiman mereka.
Karena model biomassa satelit mengukur kepadatan vegetasi, bukan komposisi atau nilai budayanya, rangkaian data yang terekam selama 24 tahun tersebut tidak menunjukkan adanya perubahan. Data rangkaian waktu tersebut tidak membedakan varietas padi tradisional dari padi berproduksi tinggi yang dipromosikan oleh pemerintah, sehingga gagal memperhitungkan hilangnya atau pemulihan keanekaragaman pertanian.
APA SELANJUTNYA?
Workshop ini ditutup dengan diskusi bersama mengenai bagaimana peta-peta yang dihasilkan ini dapat dimanfaatkan di luar rangkaian workshop. Para peserta mengusulkan strategi konkret untuk memanfaatkan ekspor peta Beyond Carbon, seperti dalam upaya pengakuan hukum yang sedang berlangsung, negosiasi batas wilayah lokal, dan advokasi hak atas tanah masyarakat adat.
Dengan menggabungkan pemetaan partisipatif berbasis komunitas dengan data satelit, para ahli teknologi masyarakat adat mampu membangun bukti tambahan untuk menunjukkan bahwa pengamanan hak atas tanah adat merupakan salah satu strategi paling efektif untuk konservasi hutan jangka panjang.
POIN UTAMA DARI SURVEI PASCA-LOKA KARYA
→ Seorang peserta merasa antusias karena dapat mencari sumber-sumber yang dapat menjelaskan alasan di balik perubahan kepadatan hutan. Melacak perubahan hutan dari waktu ke waktu, dan menggabungkan data ini dengan kesaksian lisan dari para tetua masyarakat, disebutkan oleh peserta lain, dianggap sebagai arah yang sangat menjanjikan untuk dieksplorasi lebih lanjut.
→ Peserta melaporkan keinginan mereka untuk berbagi data mengenai ketinggian pohon dan biomassa di atas tanah dengan anggota komunitas mereka. Peserta juga ingin tahu mengenai adanya kemungkinan untuk menilai potensi karbon hutan adat mereka sebagai dasar untuk melakukan advokasi di masa depan.
→ Arah kerja yang diusulkan di masa depan mencakup pelatihan yang lebih panjang yang dapat menghasilkan kumpulan data sebagai bahan diskusi dengan anggota masyarakat, serta analisis yang lebih rinci mengenai potensi penyerapan karbon di wilayah adat.
┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
Untuk kerja sama dan pertanyaan, silakan kirim pesan kepada kami: 📩 hello@beyondcarbon.earth
- MapBiomas Indonesia - Collection 2.1 time-series maps of land-use and land-cover via: https://landy.mapbiomas.id/en/collectionmap ↩︎︎
- CTrees Global Aboveground Biomass (AGB): Yang, Y. et al. (2026). CTrees Global Aboveground Biomass (100m) [Data set]. Earthmover PBC. https://doi.org/10.82924/7VMB-ZV66 ↩︎︎
- Meta and World Resources Institute (WRI) - 2026. Version 2 High Resolution Canopy Height Maps (CHMv2) https://registry.opendata.aws/dataforgood-fb-forestsv2/ ↩︎︎