Instalasi

Tentang // Tantangan

Pengalaman multisensorik membantu kita memahami dunia di sekeliling kita. Pengalaman itu menambatkan kita pada waktu dan tempat tertentu. Rasa, suara, dan aroma membantu kita mengingat, bahkan kerap menentukan kualitas ingatan kita. Indra-indra kitalah yang membantu kita mengambil keputusan.

Ruang kebijakan iklim multilateral tidak banyak memberi ruang bagi keterlibatan multisensorik. Hasil penelitian dituangkan dalam bentuk laporan atau memo, sementara keputusan tentang cara mengelola atau mengeksploitasi sumber daya alam bertumpu pada data satelit. Kelompok masyarakat, terutama para pembela dan jaringan masyarakat adat, dihadapkan dengan tantangan meninggalkan sejarah lisan dan ingatan kolektif mereka di tengah pengambilan keputusan berbasis data. Namun, apa yang akan kita peroleh jika cara-cara pengumpulan pengetahuan diperlakukan secara setara?

Tonton trailernya:

Intervensi Kami

Instalasi ini menampilkan beragam kumpulan data lewat berbagai media. Dengan menghadirkan tema [konservasi, pengelolaan] ini di berbagai layar dan pengeras suara, sebuah triptych video bersuara surround berhasil menyatukan kumpulan-kumpulan data yang sebelumnya belum pernah ditampilkan bersama. Penyatuan ini membuka titik temu dan pemahaman baru yang melengkapi laporan berbasis data serta intervensi teknologi.

Jika prototipe data merupakan komponen teknologiuntuk advokasi, instalasi ini adalah karya pelengkap berbasis budaya yang dapat ditayangkan di ruang-ruang yang berfokus pada iklim, pendidikan, dan komunitas.

Instalasi triptych ini dipamerkan di Desa Mekar Raya pada 18 Februari 2025, dilanjutkan dengan sesi diskusi dan refleksi bersama perempuan, orang muda, dan para tetua kampung. Foto: Michelle Cheripka

Tentang Video(s)

Instalasi ini berpusat pada mitos leluhur ular suku Dayak, Nabau, yang dihidupkan kembali lewat kolaborasi dengan animator Prancis-Indonesia, Laura N-Tamara dan seniman CGI asal Jepang Masaya Inaba.

Mitos ini mengisahkan undangan Nabau kepada manusia pertama untuk datang dan bermukim di Mekar Raya, serta bagaimana tanah ini kemudian menjadi tempat penyembuhan, baik secara fisik maupun spiritual. Lewat wawancara dan sejarah lisan, kami menjadikan data kualitatif ini sebagai landasan bagi kumpulan data lain yang dihimpun dan dikembangkan di sekitar Desa Mekar Raya.

Motif tradisional Dayak berwarna merah dan hitam digunakan untuk menggambarkan Nabau, sang leluhur ular Mekar Raya. Ilustrasi: Laura Nasir-Tamara.

Langkah Selanjutnya

Pada 2026, kami akan kembali ke Mekar Raya untuk menyelenggarakan pemutaran film bersama warga, termasuk dalam rangkaian People's Conservation Summit yang akan dilaksanakan di Bogor, Indonesia, Agustus mendatang. Kami juga akan menggelar pemutaran cuplikan film di Rotterdam, Los Angeles, serta dalam rangkaian Climate Weeks di New York dan Bangkok.